World Through my Words

Wednesday, February 20, 2013

Ibu Tiri vs Anak Tiri: Bagian Kedua (Ayah)


Sebelum membaca posting ini, tolong baca kata pengantarnya dan bagian pertama ya ^^

---

Kecuali memang pria itu terlalu tinggi hati, atau memang sakit jiwak, hampir semua duda belajar banyak dari sebuah perceraian.

Ada pepatah lama dari Vietnam yang berbunyi, “a man divorced once is a golden egg, and a man divorced twice is a rotten egg”

Jadi sebenarnya, for you ladies who married a widower, actually, you’re such a lucky woman. Yup, karena seorang duda akan sangat berhati-hati pada pernikahannya yang kedua. Sebisa mungkin dia akan mempertaruhkan apapun agar…tidak bercerai lagi.

Nah disinilah biasanya duda yang memiliki anak dari pernikahannya yang terdahulu menghadapi dilema. Di satu sisi, dia ingin move on bersama keluarga barunya, tapi di satu sisi dia pasti tetap memiliki perasaan terhadap anaknya. Sepanjang pengalaman dan pengamatan saya, jujur saja, memang lebih baik anak korban perceraian ikut ibu kandung daripada ayah. Pun ketika ibu bekerja, biasanya perhatiannya lebih bisa dipertanggungjawabkan. I’m sorry to all daddies around the world to say this, but you just really can’t handle it.

Seorang ayah harus punya suatu prinsip bahwa anaknya tetap anaknya, meski secara fisik tidak ada didekatnya. Hal ini biasanya berujung pada masalah finansial. Begini maksud saya. Seorang duda, ketika dia single, there’s nothing that he needs to spend on instead of his needs and his children’s needs. Misal: gajinya 5juta, ketika bercerai, dia bisa dengan mudah membagi 2,5juta untuk dia; dan 2,5 juta untuk anaknya.

Ketika dia kemudian berkomitmen untuk membangun keluarga baru, tibalah dia kemudian berpikir “wah, saya mesti mikirin keluarga baru nih. Jatah anak saya harus saya kurangi..” Lha kok, bukannya: ““wah, saya mesti mikirin keluarga baru nih. Saya harus kerja lebih keras untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus mengurangi jatah anak saya.” Gimana menurut sisters?

Seorang ayah harusnya berpikir, “anak saya yang disana butuh jatah lebih banyak daripada anak saya yang tinggal sama saya. Karena saya butuh menunjukkan keberadaan saya!” Keberadaan ini tidak harus jatah uang lho sister, tapi begini, semestinya ia memberikan hal yang sama dengan yang ia berikan kepada anak-anaknya dari pernikahan selanjutnya. Misalnya anak-anaknya yang sekarang sekolah di sekolah elit, bisa memiliki kegiatan ekstrakurikuler, memiliki asuransi kesehatan, dan lain-lain; ia berikan juga kepada anak dari pernikahan sebelumnya.

Nah, asas keadilan perlu ditegakkan disini. Tentu saja tak akan sama pada keluarga yang tinggal bersama dan terpisah. Misalnya saja seorang anak yang saat kuliah memilih ngekos. Kalau ia tinggal di rumah sendiri, katakan sehari bisalah cukup 10.000-20.000, karena ia makan ikut orang tuanya. Tapi anak kos kan makannya beli sendiri di luar, ga ikut ibu kos? Jadi tidak cukup ia diberi 10.000-20.000.

Demikian juga dengan anak korban perceraian. Sama saja dengan logika anak kos tadi. Kalau anak yang tinggal di rumah uang sakunya cukup 10.000-20.000, anak yang tidak tinggal bersama seharusnya diberi lebih banyak, tentu lagi dengan menyesuaikan kebutuhan si anak.

Bagaimana semisal mantan istri cukup mampu membiayai si anak, atau bahkan sudah bersuami lagi? Apakah kemudian kewajiban ayah kandung berkurang? TIDAK SAMA SEKALI.

Justru a true gentleman akan terluka egonya kalau tahu si anak kandung lebih dekat dengan ayah tirinya. Misalnya si ayah tiri membelikan motor, wah kalau bisa ayah kandung membelikan mobil. Mestinya sih.. Hehehehe.

Jangankan ayah tiri, seorang ayah sejati kalau dibandingkan sama pacar si anak perempuan yang baru 6 bulan ini kenal, coba tanya perasaannya?

Yang aneh sister, 9 dari 10 janda yang telah memiliki anak, punya prinsip dalam menikah lagi: “mau sama saya, harus terima anak saya juga.” sedangkan sebaliknya hanya 1 dari 10 duda yang mengemukakan hal ini *riset ngaco saya sendiri* Karena apa? Karena anak korban perceraian umumnya diasuh ibu, sehingga si ayah tidak ‘terlihat’ memiliki ‘tanggungan’. Lihat bedanya kan? Dalam perceraian, ibu dan anak adalah satu paket, sedangkan anak adalah ‘tanggungan tidak terlihat’ untuk ayah.

Duhai ayah, seandainya engkau ingat bahwa doa anak yang sholeh-lah yang bisa menolongmu pada hidup sesudah matimu nanti.. Niscaya tidak akan ada duda-duda yang sibuk mengurangi jatah bulanan anak kandungnya..

Oleh karena itu, para ibu tiri, saya mohon dengan kerendahan hati saya, ingatkan suami anda akan hal ini. Bahwa kewajibannya menafkahi anak kandungnya akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir nanti..

Jangan sebaliknya, meminta ia memilih anda atau anak kandungnya. Anda telah melukai hati seorang anak yang tidak pernah meminta keadaan ini, menghilangkan satu kesempatan suami anda mendapatkan doa yang teramat tulus…dari darah dagingnya. Pun jika sang suami malah lebih memilih anak kandungnya, bukannya anda yang akan malu sendiri?

Dan kalaupun anda begitu berkeras hati membiarkan semuanya terjadi, dan memang karma tidak membalas anda di kehidupan ini.. Ada dua hal yang akan terjadi: anda turut berkontribusi dalam kehancuran masa depan seorang anak, atau di sisi lain, one day anda akan melihat seseorang yang begitu bersinar di masa depan karena telah dikecewakan masa lalu. Dan ketika anak anda berada di puncaknya, suami anda, yang memilikinya tidak memiliki kesempatan mendampinginya.

Wuih serem yes. *background music-nya kayak di film horror*

But it’s true, you can’t agree more with me, right?

Sekarang, silahkan pilih, wahai para ayah kandung dan ibu tiri di luar sana.. memutus jalan keberhasilan si anak, dimana hal itu merupakan haknya. Atau……

Mendampingi si anak meniti kesuksesannya?

Love and hugs,
Prima

(to be continue)


1 komentar:

  1. Again mbak, what a beautifully written article :') semoga si istri mantan suami ketemu artikel ini :')

    ReplyDelete

© I'm Fireworks!, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena