World Through my Words

Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Wednesday, February 12, 2014

Best Valentine Day Ever

Hello ^^

Hari ini tanggal 12 februari, which is lusa adalah..valentine day. Yup, empat belas februari memang spesial banget because love is everywhere. Memaknai hari kasih sayang tidak harus dengan pacar kok ^^ Justru hari valentine bisa kita manfaatkan untuk memberi kejutan spesial bagi keluarga tersayang, seperti Mama, Papa dan saudara-saudara :)

Nah, tahun ini aku pengen banget membuat 14 Februari jadi 'Best Valentine Day Ever' dengan menghadiahkan barang-barang yang spesial untuk keluargaku. Karena aku gak tinggal satu kota dengan mereka, mengirimkan hadiah pasti bikin surprise deh. Mereka happy, aku pun happy ^^

ini foto keluarga pas aku wisuda :") full team :D

Oiya, gak perlu pusing-pusing muter mall atau toko-toko buat nyari hadiah-hadiah spesial buat yang tersayang. Soalnya sekarang ada Zocko. Wah, apa tuh Zocko? Jadi, www.zocko.com adalah sebuah web yang mengkurasi berbagai stuff keren yang ada di webstore-webstore. Bayangin, kita gak perlu repot-repot buka webstore satu persatu karena semuaaaa the best stuff yang mereka punya, ada di wall of fame nya Zocko ^^

Menyenangkan sekali bukan. Udah gitu, setiap kita share cool stuff yang ada di Zocko, kita dapet reward loh! Aih menyenangkan sekali kan :") Saat kita memberi hadiah buat keluarga atau kekasih tercinta, Zocko juga memberi kita hadiah spesial berupa reward yang bisa dipakai untuk belanja di webstore-webstore yang di compile di webnya Zocko.

Nah balik lagi ke hadiah, ini lho yang pengen aku hadiahkan buat Mama, Papa dan adek-adekku. Mungkin sederhana, tapi semoga bisa membuat mereka bahagia ya :") sebahagia aku karena menemukan web yang menyenangkan dan functional banget kayak www.zocko.com ^^

Kenzo Flower: Kenzo Flower by Kenzo Summer Fragrance 50ml.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LS5g

Jadi ceritanya, Mamaku suka minta body splash punyaku. Trus aku kepikiran untuk kasih hadiah Mama parfum Kenzo Flower ini. Dulu aku baca reviewnya, parfum satu ini tuh wanginya fresh dan cocok banget buat wanita yang aktif kayak mamaku :) 

Team GB Airline Bag: Adidas Originals Airline Bag in White is part of the popular Team GB range showing support to Great Britain for the 2012 Olympic games.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LS5z

Papaku walau udah berumur, hobinya Futsal loh! Mwhihihi tapi selama ini Papaku belom punya sport bag kayak gini. Pasti papaku seneng banget deh dikadoin sport bag merek Adidas ini. Selain awet juga emang paling pas buat dibawa futsal.

A Cap!: New Chapter 001 A Cap by holy c*ap !
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LS6G

Adek perempuanku yang kelas 3 SMU, hobinya adventure! Hihi jangan heran kalo topi ini bakalan bikin petualangan dia jelajah pantai bakalan makin seru. Warnanya bagus trus bahannya juga berkualitas. Jelas dong, kan Zocko selalu memilih yang terbaik! ;)

Mira Bag: A trendy sling bag by Ciciero with ethnic twist. Featured with woven bag flap in ethnic pattern, magnetic button for closure & adjustable long strap.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LS6R

Aduuuhhh tas ini cute bangetttt! Adekku Tasya pasti suka banget deh. Soalnya Tasya kalau les sore hari, lebih suka bawa tas kecil. "Biar gak berat kak," gitu katanya. Ish, Zocko selalu tahu apa yang terbaik ya!

Nah kan, aku gak perlu ribet browsing sana-sini. Buka aja www.zocko.com dan voila, semua yang kita cari, ada di sana ;). Sign in nya juga mudah, cukup pake akun sosmed FB/twitter. Kurang apalagiiii? Ikutan bikin akun zocko kayak aku yuk ^^

Yay! Semua yang pengen kukadoin buat ortu udah dapet, sekarang tinggal kirim aja ke keluarga yang ada di rumah. I looove them so much, more than everything! Thanks Zocko, udah membantu ku mewujudkan 'Best Valentine Day Ever' :)

Lots of love
Titasya

Read More

Wednesday, March 6, 2013

My Hair, My Crown

I love my hair.
Sure thing, hair is just like a crown for every woman, right?

Walaupun saya berkerudung, saya sangat menikmati waktu-waktu keramas dan menyisir rambut. Apalagi, for the first time in my life, saya punya rambut panjang, YIPPIE YAY! Sekarang sih alhamdulillah bisa dikategorikan cukup sehat, shiny, rontok normal - ga terlalu banyak rontoknya, karena baca di literatur sekitar 100 helai per hari masih tergolong normal. Seneng deh pokoknya. Hehe.

Jadi ingat kalau waktu kecil saya nyaris botak. Entah kenapa rambut saya lama banget tumbuhnya. Di TK, kalau anak-anak perempuan yang lain rata-rata sudah punya rambut sebahu (ada yang sepunggung karena ga pernah dipotong), saya…sebawah kuping. Itu udah ga pernah dipotong sama sekali sejak lahir. Ngenes pwol.

Konon itu ada hubungannya sama pekerjaan ibu saya yang sering terpapar radiasi. Yup, mama saya adalah penata rontgen, yang tentu saja kerjanya tiap hari nge-rontgen orang. Kalimat andalan ibu saya waktu itu adalah “silahkan dibuka bajunya Pak”. Engga lah, bercanda. Orang-orang yang mau rontgen kan pakai baju khusus. Hihi.

Radiasi memang se-mengerikan itu sister. Efeknya ga hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keturunan.. Ga usah ngomong nuklir Jepang yang maha serem, kita yang sehari-hari ga bisa lepas dari HP dan komputer aja pasti ngerasa sering pusing, mata berkunang-kunang, perut keroncongan *eh itu ternyata belum makan* :p

Seenggaknya, buat sister yang belum berhijab, paparan sinar UV dan polusi udara berkontribusi pada kerusakan rambut sister. Kalau yang sudah berhijab pun juga tidak berarti selamat begitu saja dari radiasi ini, karena radiasi tersebut bisa menembus kain kan.

Nah, saya merasa perlu sangat berhati-hati dengan kesehatan saya, termasuk kesehatan rambut. Pengalaman ‘buruk’ dari ibu saya membuat saya ingin mempersiapkan diri dengan lebih baik, karena one day I’ll be a mom, right? ;)

Pilihan saya jatuh kepada minum suplemen. Soalnya buat saya praktis banget, lebih praktis daripada ngolesin vitamin rambut. Serunya, suplemen yang direkomendasikan ibu saya ini juga bisa buat kesehatan wanita pada umumnya. Dulu awalnya minum ini memang benar-benar cuma pingin jaga kesehatan supaya ga gampang sakit. Hare geneee, kena hujan sedikit flu, salah makan sedikit diare, dicolek sedikit hamil #eeehhh

Setelah beberapa lama, kerasa kalau saya jadi jarang ndilep – sakit menjelang datang bulan (love this!), kulit wajah dan badan lebih lembab, dan rambut makin shiny! Ternyata untuk kasus kulit dan rambut, sudah banyak banget testimoni yang menceritakan tentang ibu hamil yang minum suplemen ini; bayinya punya kulit yang bersih dan rambut yang lebat. Deee coba ibu saya minum ini waktu hamil saya T.T

Suplemen apakah itu??? *drum roll*

Proudly present…Elken SpirulinaTM \^^/



Tentu saja Spirulina yang satu ini berbeda dengan Spirulina yang lain. Waktu saya ke Malaysia tahun lalu, saya sempat mengunjungi exhibition hall-nya Elken, dan disana bisa lihat kalau sistem ‘perkembangbiakan’ Elken Spirulina benar-benar organik dan alami.

Foto kanan atas ceritanya 30 butir Spirulina mengandung Beta Karoten dalam jumlah yang sama dengan apel sebuanyak itu! Amajing yes?

Buat sister yang pingin tahu lebih banyak tentang Spirulina, sekarang ga perlu jauh-jauh ke Malaysia. Soalnya peneliti Spirulina, Profesor Yasumasa Kodo jauh-jauh datang langsung dari Jepang buat membagi hasil penelitian terbaru tentang Spirulina. Wah, apakah kali ini Spirulina terbukti bisa melancarkan jodoh? Atau membebaskan diri dari jeratan hutang? *halah*

Yang pasti, Spirulina bisa membuat sister lebih kuat dalam menahan gempuran radiasi. Bagaikan Xena dengan baju besinya! :D

Catet ya sister.. ini dia info acaranya: 

  Minggu, 10 Maret 2013
Hotel Ibis, Mangga Dua, Jakarta

HTM-nya 600ribu - tapi super alhamdulillah saya dapat kesempatan berbagi sama sister, diskon 50%!!! Sangat TERBATAS! Jadi, langsung sms ke Mbak Ekida 0878 5162 7100: nama usia #primasyaa. Sister akan dapat balasan berupa nomer rekening. Sister bisa DP 50% dan melunasi sisanya di Hari H.

It’s Professor Yasumasa Kodooooo and it’s for your health, very affordable investment!!!

Coba sister ke Jepang, PASTI jauh lebih mahal dari ‘sekedar’ 300ribu kan? Belum lagi waktu yang didekasikan Profesor Yasumasa Kodo untuk meneliti Elken Spirulina.. 30 tahun AJA gitu lho.

Luangkan waktu dan dana sister. Anggap aja bulan ini anggaran buat beli sepatu lucu yang ditaksir di butik favorit itu, dialihkan untuk mendapatkan sebuah ilmu.

Oya, selain di Jakarta, sister yang di Surabaya bisa mendengar info tentang Spirulina dari Dr. Gandiryanto SpKo (pakar nutrisi, berpengalaman selama lebih dari 30 tahun menangani atlet nasional). HTM-nya 250ribu – tapi saya cuma punya SEPULUH buah undangan saja. Go grab it fast! Langsung konfirmasi ke Mbak Ekida 0878 5162 7100: nama usia #surabaya #primasyaa

Saya percaya sister termasuk orang-orang yang peduli akan kesehatan diri sendiri dan keluarga, so I’ll meet you on Saturday (Surabaya) and Sunday (Jakarta), okay?

Love,
Prima
Read More

Friday, March 1, 2013

When Finally You Understand...

Assalamualaikum sister :)

Gak kerasa udah jumat lagi AJAH! Huraaaay besok weekend hehehehe yang anak kos pasti pada hepi nih, tanggal muda + bisa pulkam \^^/. Yep, pulang pas weekend emang momen yang ditunggu-tunggu sama anak-anak kuliahan ya sister. Bertemu sama keluarga, makan masakan ibu di rumah. Aku besok juga mau pulaang kaaampuuung hehehehe sudah kangen sama mama sama papa :"> .

Anyway tadi baca-baca timeline, ada satu orang yang lagi beeteee banget soalnya dia pengen liburan kemana gitu tapi gak dibolehin sama ayahnya. Alasannya si ayah sih karena tempat itu jauh dan si anak ini kan baru sembuh dari sakit takutnya malah kecapean. Tapi ya dasar orang seumuran kita yah berasanya kalau udah pengen sesuatu ya sehat-sehat aja, resiko dipikirin ntar-ntaran aja hehehehe.

Then suddenly i remember my dad. Duluuu pas masih SMU, papa hobi banget ngelarang ini itu. Gak boleh pulang magrib! gak boleh pulang diatas jam 9 malam! gak boleh main jauh-jauh dan seterusnya. Suka bete sendiri karena sehari-hari waktu udah habis buat les, masa main bentaran aja gak boleh. Akhirnya kadang nyolong-nyolong bolos les trus main (yes i ever did it) atau kalau weekend abis ngerjain tugas kelompok, ngabur kemana gitu. Sooo teenager.

Dulu suka mikir segitunya sih papa ke saya. Temen-temen aja mau main kek mau ke jogja kek mau ke planet pluto kek dibiarin aja. Mau gak ikutan bimbel kek mau apa kek ortunya diem aja. Papa? sehari aja gak masuk bimbel pasti ditanya : emang Primagama nya libur? gitu >.< kayak ga ada kerjaan aja papa nih. Trus suka banget telepon tiap jam selesai les. "Ayo buruan pulang sudah sore" "sudah selesai les nya?" dan seterusnya yaampun padahal tempat les sama rumah cuma 10menitan naik motor.

Seiring aku beranjak dewasa, mulai masuk kuliah ternyata peraturan-peraturan dari Papa banyak berubah. Bahkan sekarang aja saya pulang jam 12 dibiarin aja, dikasih kunci malahan ahahahaha adek yang masih SMU suka iri kenapa dia jam 9 malem belom pulang sudah diteror sama papa sedangkan saya jam 10 malam baru pergi kok boleh boleh aja :P.

Kemudian pada akhirnya aku sadar. Papa dulu tidak memberikan kebebasan penuh kepadaku karena aku masih remaja. Ya tau lah gimana anak remaja yah, pikirannya masih shallow dan kalau gak diarahin ya bubar jalan deh. Papa tau bahwa aku masih belum bisa mengatur hidupku sendiri kala itu. And one more, papa sayang sama aku. Papa ingin aku pulang segera setelah bimbel selesai karena bahaya kalau di jalan pas senja-senja. Papa gak pengen aku jatuh atau kenapa-kenapa di jalan. Ya papa gak pernah bilang gitu sih tapi ya secara logika aja kan, anak SMU kadang suka ngaco kalau nyetir apalagi kalau keburu-buru.

Semakin aku dewasa, semakin longgar peraturan karena papa tau saya sudah bisa menjaga diri. Sudah tau harus melakukan apa dan harus bagaimana. Ya gitu deh, semua butuh proses kan. Justru sekarang-sekarang aku bersyukur karena papa dulu perhatian sekali. Kalau hujan deras diantar sekolah dan bimbel, kalau pulpen habis diantar beli ke toko buku dan seterusnya. My dad not only give me money money money but he give all his love and care for me, ah :').

Ada waktunya kita akan mengerti apa yang dilakukan orangtua kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Mungkin caranya berbeda-beda tapi percayalah, they love us more than we love them. Jangan manyun kalau dilarang ini itu as long as alasannya masuk akal. Sampe sekarang papa juga ga ngasih saya motoran jauh-jauh. Ya emang bener sih, bahaya dan kalau saya kecapean ujung-ujungnya sakit juga repot kan.

When finally you understand, don't forget to hug your parents and say "i know you do everything for me and i really appreaciate it. Thankyou" :"). Have a nice weekend, selamat bertemu dengan keluarga :).

Cheers
Titasya
Read More

Wednesday, February 20, 2013

Ibu Tiri vs Anak Tiri: Bagian Kedua (Ayah)


Sebelum membaca posting ini, tolong baca kata pengantarnya dan bagian pertama ya ^^

---

Kecuali memang pria itu terlalu tinggi hati, atau memang sakit jiwak, hampir semua duda belajar banyak dari sebuah perceraian.

Ada pepatah lama dari Vietnam yang berbunyi, “a man divorced once is a golden egg, and a man divorced twice is a rotten egg”

Jadi sebenarnya, for you ladies who married a widower, actually, you’re such a lucky woman. Yup, karena seorang duda akan sangat berhati-hati pada pernikahannya yang kedua. Sebisa mungkin dia akan mempertaruhkan apapun agar…tidak bercerai lagi.

Nah disinilah biasanya duda yang memiliki anak dari pernikahannya yang terdahulu menghadapi dilema. Di satu sisi, dia ingin move on bersama keluarga barunya, tapi di satu sisi dia pasti tetap memiliki perasaan terhadap anaknya. Sepanjang pengalaman dan pengamatan saya, jujur saja, memang lebih baik anak korban perceraian ikut ibu kandung daripada ayah. Pun ketika ibu bekerja, biasanya perhatiannya lebih bisa dipertanggungjawabkan. I’m sorry to all daddies around the world to say this, but you just really can’t handle it.

Seorang ayah harus punya suatu prinsip bahwa anaknya tetap anaknya, meski secara fisik tidak ada didekatnya. Hal ini biasanya berujung pada masalah finansial. Begini maksud saya. Seorang duda, ketika dia single, there’s nothing that he needs to spend on instead of his needs and his children’s needs. Misal: gajinya 5juta, ketika bercerai, dia bisa dengan mudah membagi 2,5juta untuk dia; dan 2,5 juta untuk anaknya.

Ketika dia kemudian berkomitmen untuk membangun keluarga baru, tibalah dia kemudian berpikir “wah, saya mesti mikirin keluarga baru nih. Jatah anak saya harus saya kurangi..” Lha kok, bukannya: ““wah, saya mesti mikirin keluarga baru nih. Saya harus kerja lebih keras untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus mengurangi jatah anak saya.” Gimana menurut sisters?

Seorang ayah harusnya berpikir, “anak saya yang disana butuh jatah lebih banyak daripada anak saya yang tinggal sama saya. Karena saya butuh menunjukkan keberadaan saya!” Keberadaan ini tidak harus jatah uang lho sister, tapi begini, semestinya ia memberikan hal yang sama dengan yang ia berikan kepada anak-anaknya dari pernikahan selanjutnya. Misalnya anak-anaknya yang sekarang sekolah di sekolah elit, bisa memiliki kegiatan ekstrakurikuler, memiliki asuransi kesehatan, dan lain-lain; ia berikan juga kepada anak dari pernikahan sebelumnya.

Nah, asas keadilan perlu ditegakkan disini. Tentu saja tak akan sama pada keluarga yang tinggal bersama dan terpisah. Misalnya saja seorang anak yang saat kuliah memilih ngekos. Kalau ia tinggal di rumah sendiri, katakan sehari bisalah cukup 10.000-20.000, karena ia makan ikut orang tuanya. Tapi anak kos kan makannya beli sendiri di luar, ga ikut ibu kos? Jadi tidak cukup ia diberi 10.000-20.000.

Demikian juga dengan anak korban perceraian. Sama saja dengan logika anak kos tadi. Kalau anak yang tinggal di rumah uang sakunya cukup 10.000-20.000, anak yang tidak tinggal bersama seharusnya diberi lebih banyak, tentu lagi dengan menyesuaikan kebutuhan si anak.

Bagaimana semisal mantan istri cukup mampu membiayai si anak, atau bahkan sudah bersuami lagi? Apakah kemudian kewajiban ayah kandung berkurang? TIDAK SAMA SEKALI.

Justru a true gentleman akan terluka egonya kalau tahu si anak kandung lebih dekat dengan ayah tirinya. Misalnya si ayah tiri membelikan motor, wah kalau bisa ayah kandung membelikan mobil. Mestinya sih.. Hehehehe.

Jangankan ayah tiri, seorang ayah sejati kalau dibandingkan sama pacar si anak perempuan yang baru 6 bulan ini kenal, coba tanya perasaannya?

Yang aneh sister, 9 dari 10 janda yang telah memiliki anak, punya prinsip dalam menikah lagi: “mau sama saya, harus terima anak saya juga.” sedangkan sebaliknya hanya 1 dari 10 duda yang mengemukakan hal ini *riset ngaco saya sendiri* Karena apa? Karena anak korban perceraian umumnya diasuh ibu, sehingga si ayah tidak ‘terlihat’ memiliki ‘tanggungan’. Lihat bedanya kan? Dalam perceraian, ibu dan anak adalah satu paket, sedangkan anak adalah ‘tanggungan tidak terlihat’ untuk ayah.

Duhai ayah, seandainya engkau ingat bahwa doa anak yang sholeh-lah yang bisa menolongmu pada hidup sesudah matimu nanti.. Niscaya tidak akan ada duda-duda yang sibuk mengurangi jatah bulanan anak kandungnya..

Oleh karena itu, para ibu tiri, saya mohon dengan kerendahan hati saya, ingatkan suami anda akan hal ini. Bahwa kewajibannya menafkahi anak kandungnya akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir nanti..

Jangan sebaliknya, meminta ia memilih anda atau anak kandungnya. Anda telah melukai hati seorang anak yang tidak pernah meminta keadaan ini, menghilangkan satu kesempatan suami anda mendapatkan doa yang teramat tulus…dari darah dagingnya. Pun jika sang suami malah lebih memilih anak kandungnya, bukannya anda yang akan malu sendiri?

Dan kalaupun anda begitu berkeras hati membiarkan semuanya terjadi, dan memang karma tidak membalas anda di kehidupan ini.. Ada dua hal yang akan terjadi: anda turut berkontribusi dalam kehancuran masa depan seorang anak, atau di sisi lain, one day anda akan melihat seseorang yang begitu bersinar di masa depan karena telah dikecewakan masa lalu. Dan ketika anak anda berada di puncaknya, suami anda, yang memilikinya tidak memiliki kesempatan mendampinginya.

Wuih serem yes. *background music-nya kayak di film horror*

But it’s true, you can’t agree more with me, right?

Sekarang, silahkan pilih, wahai para ayah kandung dan ibu tiri di luar sana.. memutus jalan keberhasilan si anak, dimana hal itu merupakan haknya. Atau……

Mendampingi si anak meniti kesuksesannya?

Love and hugs,
Prima

(to be continue)


Read More

Sunday, February 17, 2013

About Being Private Course Teacher

Assalamualaikum :)

Yay Tita nge blog lagi! hehe :) . Setelah kemarin-kemarin Primadita membawa readers ke asyiknya #30harimenulissuratcinta , now i'll be share about KIDS! heuheu. Bukan ini bukan tentang parenting karena saya belum menikah dan punya anak. Saya mau cerita-cerita tentang pengalaman menjadi guru les privat anak elementary school. Tulisan ini bakalan ber-seri karena saya akan bahas satu persatu murid-murid les saya ^^.

Menjadi guru les tanpa punya background sebagai tenaga pendidik atau kuliah dijurusan pendidikan itu pengalaman yang seru sekali lho. Saya tidak punya basic ilmu mengajar sama sekali. Hanya bermodalkan niat dan profesional aja karena emang butuh uang tambahan :D. 2011 saya mulai menjadi guru les privat bagi Rafi Rendrahadi, murid les privat pertama saya. Guru les privat berbeda dengan guru dikelas atau guru di bimbel. Kenapa? karena hubungan emosional antara murid les-guru les lebih erat.

Guru les privat datang ke rumah murid, menghabiskan satu setengah jam bersama murid, just two of us. Berbeda dengan guru dikelas yang mengajar didepan kelas atau guru bimbel yang satu kelas berisi 10 anak, guru les privat benar-benar person to person. Karena datang kerumah murid, guru les privat mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari murid, bagaimana kondisi keluarganya, bagaimana mood si murid dan lain sebagainya. Hal-hal inilah yang bikin guru les privat kadang susah ngelepas muridnya, udah terlanjur sayang sih ^^v.

Disini saya bercerita share pengalaman yah, bukan as expert karena saya juga bukan calon guru heuheu. Di post pertama ini, saya mau cerita tentang psikologis anak kecil dan gimana cara menghadapinya. Case nya pada Rafi Rendrahadi. Kenapa Rafi Rendrahadi? kenapa bukan murid yang lain?. Simply, because from all my student, Rafi very unique and make me learn so hard to handle him ;). Rafi bandel? enggak! trus? here we go...

Rafi Rendrahadi, bungsu dari dua bersaudara. Papa-mama nya kerja. Rafi ini tinggal sama keluarga+neneknya (biasa dipanggil Mami). I can say, Rafi ini dari keluarga yang established finansialnya jadi Rafi kemana-mana diantar sopir dan punya nanny. Papa-Mama Rafi bekerja dan satu setengah tahun terakhir, mama nya magister di UI Jakarta. Papa nya Rafi as a doctor in Pare Hospital, Kediri. So...Rafi ini seringnya di rumah sama Mami aja karena biasanya papa-mama nya full dirumah itu weekend.

Rafi ini anaknya cerdas, CERDAS BANGET. Rafi suuuka sekali sama otomotif dan gadget things, also plane because he want to be a pilot. Also he love to play drum and football. How amazing kids, eh? ;). He have eveything in his house because...he never play outside. Ya, Rafi tidak pernah bermain diluar rumah seperti anak-anak lainnya. Pulang sekolah, Rafi ya main dirumah, sendirian. Sore les sama saya, malam nonton teve kabel trus tidur.

Pertama saya datang untuk ngelesi Rafi, my first judge is : anak ini cute dan kind sekali ^^. Satu minggu kemudian? ketauan deh aslinya hahahhah :D. Ya, tidak perlu waktu lama untuk mengetahui bagaimana anak-anak yang sesungguhnya karena mereka kan ga kenal #pencitraan :D. Ternyata....

Rafi itu suka banget usil. Ya kotorin baju saya, ya males nulis, dan agak bossy. Mungkin karena Rafi biasa dilayani sama ART dan nanny yah, jadinya sama guru les juga begitu. Trus maunya maiiiin aja. Susah duduk manis. Satu dua bulan saya bisa sabar. Abis itu? suka pening gimana yah ngadepin Rafi biar bisa 'dipegang'?. Udah gitu kalau mood nya lagi kacau, suka marah-marah dan ujung-ujungnya PR nya ga kesentuh sama sekali T.T

But time teach everything. Berjalannya waktu, saya mulai belajar. Belajar untuk memahami kenapa dia seperti itu? gimana nge handle nya? dan lain sebagainya. Yes, finally i found the pattern and solution :). Saya belajar untuk memahami psikologis Rafi, memahami apa yang dia rasakan dan dia inginkan. Pelan-pelan, saya bisa mengerti dan menghadapi Rafi :D.

Rafi sekolah dari pagi sampe siang jam 1 an. Kadang dia capek jadi ketika saya datang, dia badmood. Solusinya? ya saya tidak memaksa. Saya biarkan dia bermain, entah making something or whatever. Kalau perlu saya temani bermain. Mentok 30menit moodnya pasti udah bagus. Tinggal pelan-pelan diajakkin ngerjain PR. Nah ada satu fakta lagi tentang psikologis anak-anak. Just like us, mereka kalau sudah bisa terhadap satu topik pelajaran, males buat belajar itu lagi dan ujung-ujungnya males ngerjain PR. Ngakalinnya? ya Rafi yang mendikte jawaban, saya yang menulis heheheh. Karena Rafi mungkin juga sudah capek menulis di sekolah ya.

Makin besar, Rafi mengerti kalau ada satu bahasan yang dia tidak paham, dia butuh belajar. 6 bulan ini, Rafi sendiri lho yang selalu minta sama saya untuk belajar sesuatu kalau dia tidak paham. Minta dibikinkan soal lalu tanya jawabnya sambil...bermain. Entah lempar bola, entah bikin pesawat kertas dan lain sebagainya.

Anak-anak biasanya kalau ada orangtuanya jadi malas belajar sama guru les. And it happen to Rafi. Karena ortunya cuma dirumah pas weekend, Rafi suka ngambek kalau harus les. Ya saya maklum sih karena weekdays kan ortunya ga dirumah :). Ngatasinnya? membiarkan dia setiap 10 menit nyamperin mama nya di kamar and let him cuddling w/ his parents for a minute. Lucu ya? hehhehe ya gitu. Ngelesin anak-anak harus benar-benar tahu gimana mood nya, psikologisnya biar enak. Anak-anak tidak sama dengan anak SMP atau SMU yang setiap les bisa duduk manis dan fokus. Yakinlah selama satu setengah jam ngelesi anak SD, waktu maksimalnya hanya satu jam. Sisanya? mereka main, mereka telling something, etc. Ssssst, anak-anak suuukaaa banget bercerita lho ^^ and they will be very happy if we hear them, we appreciate dan syukur-syukur nyambung sama bahasan mereka :).

Rafi case make me learn many thing about kids. The point is, sama anak-anak itu emang kudu sabar. Sabar bukan berarti ngebiarin mereka loh ya. Justru kalau kita bisa telaten, murid les akhirnya nurut sama kita. Saya suka nasehatin rafi kalau dia kumat usil sama ART nya. "Dek Rafi gaboleh gitu sama buk tun, dosa lho" trus dia diem :)) dulu? dicuekin aja saya ngomong gitu. Lama-lama karena Rafi menganggap saya bukan orang lain jadinya mau nurut :).

Sudah 2 tahun lebih saya ngelesi Rafi. Sekarang rafi sudah mau nurut, mendengarkan bila diberi tahu dan satu lagi, mau inisiatif minta belajar apa yang dia gabisa :D. DUA TAHUN DAN BARU BISA 'MENAKLUKKAN ANAK KECIL?'. Well, it's hard i tell you ;). Yakin deh, ada banyaaak sekali pelajaran berharga dari menjadi guru les privat. Mulai dari melatih kesabaran, belajar handle anak-anak (well, jadi orangtua itu ga ada sekolahnya lho dan jadi guru les kita dapet 'sekolah gratis' tentang mendidik dan mengajar anak-anak), memahami psikologis anak-anak sampai what we can do and better don't for them ;).

Waaaa panjang juga blogpost saya hahahaha. Okey, mari sudahi #sharingstory hari ini. Next post mau cerita tentang jadi guru les nya Khansa Rafi. Ya, all of my student name is RAFI. Tunggu aja abis ini Rafi Ahmad jadi murid saya :P. Anything to share? drop ur comment! ;).

Cheers
Tita
Read More

Thursday, February 14, 2013

Ibu Tiri vs Anak Tiri: Bagian Pertama (Anak)


Sudah baca aturan membaca post blog ini? ;)

Perlu sister pahami, tidak ada satupun anak di dunia ini yang menginginkan perceraian. Masalahnya adalah, perilaku buruk sama saja dengan perilaku baik, seringnya pola berulang dan menjadi kebiasaan. Maka tidak heran ketika suatu masalah terkuak, seseorang di pihak yang ‘merasa benar’ dan menjadi ‘korban’ mengambil langkah perpisahan.

Dengan dalih ‘ini juga demi kebaikan anak kami’, dimana mereka juga pasti tahu bahwa sebaik apapun mereka menutupi perpisahan tersebut, ada sesuatu yang sudah tercerabut dari jiwa si anak. Kebersamaan. Melihat bahwa ia normal, yaitu memiliki ayah dan ibu yang tinggal bersama di satu rumah. Dan hal itu hilang tanpa ada yang bisa anak lakukan untuk mempertahankannya.

Saya ingat salah satu dialog di film “Letters from Juliet” yang diperankan oleh Amanda Seyfried. Nenek dari pemeran utama laki-laki mengatakan bahwa orang tua si laki-laki (yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas) tidak sama dengan orang tua Amanda yang ‘memilih untuk meninggalkan Amanda’.

Jadi, sister tidak mungkin berharap anak broken home bisa senormal anak di sebuah keluarga yang biasa saja. Kenyataannya memang mereka mengalami suatu keadaan yang abnormal.

Namun begitu, pada beberapa keadaan dengan pola didik yang luar biasa, seorang anak broken home bisa menjadi lebih super daripada anak biasa. Maaf, ambil contoh saya. Saya diajarkan untuk harus berprestasi supaya ayah saya selalu ingat akan saya. Karena kita selalu ingat pada apa yang bisa kita banggakan, benar? Sebenarnya saya juga biasa-biasa saja, tapi ketika saya memasuki sebuah kompetisi, saya bilang sama diri sendiri bahwa saya harus menang. Saya mau ayah saya menemui saya dan mengucapkan selamat. Sebenarnya tekanannya jadi lebih tinggi dan stressful tapi sekali lagi, sudah menjadi suatu kebiasaan.

Selain itu, anak-anak tetaplah anak-anak. Suka atau tidak, orang tua memang tempat meminta. Jangankan yang usia 10 tahun, hingga saat ini saya berumur hampir 25 tahun, kalau saya pingin punya sesuatu, saya akan tanya dulu ke ayah saya. Bukan saya tidak mampu beli sendiri, tapi karena anak korban perceraian menginginkan sebuah simbol kasat mata yang menjadi bukti perhatian orang tuanya. Demikian juga yang selalu saya bilang ke ayah saya. Setiap hari raya, saya selalu diberi uang untuk belanja baju sendiri. Saya tegas menolak. Karena, kalau dibelikan bisa lebih dari jatah, hehe. Bukan, saya ingin memiliki waktu berkualitas bersama ayah saya. Saya ingin ayah saya memilihkan baju terbaik untuk saya, seperti yang beliau lakukan untuk ketiga adik saya.

Jadi, jika anda adalah seorang ibu tiri dan menganggap bahwa suami anda sudah cukup memberikan sejumlah uang sebagai tunjangan bulanan, percayalah berapapun jumlahnya tidak akan pernah cukup untuk menggantikan kehadiran ayahnya.

Saya pun merasakannya. Di masa SMA, setiap awal bulan saya terpekur di depan ATM. Menatap nominal uang di rekening itu sambil berpikir ‘buat apa uang sebanyak ini?’ Saya tidak butuh uang sebanyak itu untuk naik angkot, saya bahkan rela menukarnya hanya untuk mendapat kesempatan diantar-jemput ke sekolah oleh ayah.

Disinilah biasanya sinetronnya mulai. Anak-anak itu menggunakannya untuk hal-hal yang tidak ‘normal’. Dan sekali lagi si ayah dan ibu tiri mengatakan “kamu ga tahu diuntung”

Well, saya tidak membela anak broken home. Karena it’s about environment after all. Setiap manusia selalu bisa memilih hal yang lebih baik. Tapi kalau lingkungannya tidak menunjukkan kepada si anak bahwa itu buruk, ya how come he/she knows?

And yes. Jangan jadikan anak broken home sebagai kambing hitam, terlebih sampai bilang “anak broken home sih…” Yang anak normal MBA, narkoba, bandar togel *eh* juga banyak ibu-ibu.. Ndak ada hubungannya sama sekali ya.. Plis.

Kesimpulannya adalah, tidak ada gading yang tak retak. Seorang anak yang datang dari keluarga yang paling harmonis pun masih bisa tidak sempurna. Dalam posisi seperti ini, baiknya memiliki visi bahwa anak tiri sama dengan anak kandungnya. Sama-sama anak-anak. Titik.

Untuk anak-anak broken home, sayang sekali saya baru sadar hal ini setelah saya usia 24 tahun. You have to move on, istilah gaulnya. Apapun yang terjadi antara ayah dan ibumu, bersyukurlah mereka berdua masih ada, seperti apapun keadaannya.

Sekali lagi, suka atau tidak, yang kemarin biarlah berlalu. Perpisahan mereka bukan kesalahanmu, tapi kalau sampai ada sesuatu dengan masa depanmu, itu jelas salahmu. Jika memang kamu menganggapnya sebagai sebuah kekurangan, kamu selalu bisa mengubahnya menjadi peluang dan kesempatan untuk selangkah lebih maju daripada orang lain. Kamu, berhak untuk bahagia. Dengan cara yang baik dan benar.

Terakhir, seperti kamu, kedua orang tuamu berhak untuk bahagia. Jika memang mereka tidak bahagia ketika bersama dengan satu sama lain, mereka berhak punya kesempatan kedua. Jangan halangi hak mereka untuk bahagia. Because after all, you will grow up someday. You will leave your parents, and when you’re gone, its their couple who will light up their life. Your duty is simply take care of your own life and your own future family.

Silahkan berikan masukan atau mungkin kalau sister mau sharing, bisa email ke primaditarahma(at)gmail(dot)com. Dengan satu syarat, jangan cerita kalau takut saya tidak bisa simpan rahasia #bercanda :p

Love and Hugs,
Prima





Read More

© I'm Fireworks!, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena