World Through my Words

Sunday, February 26, 2017

[Startup Series] Travelingyuk Then and Now

Tahun 2016 menjadi kejutan besar bagi travelingyuk.com , singkatnya: kami kini menjalankan bisnis di bawah holding company bersama beberapa startup lain yang sudah besar terlebih dahulu. Sebuah mimpi yang bahkan kami belum mulai meraihnya, sudah terwujud. Alhamdulilah, Tuhan selalu baik dan mengatur semuanya di waktu yang terbaik pula. Selama hampir satu tahun ini, kami (saya dan founder travelingyuk) mendapatkan banyak banget ilmu seputar bisnis dan start-up. Agar tak terhapus begitu saja, saya akan menuliskannya menjadi blogpost series.

Post yang pertama, saya bagi menjadi dua bagian yaitu: perjalanan travelingyuk hingga pertengahan 2016 dan bergabung dengan holding company.

Travelingyuk: Hadir dari Ide Sederhana

Bekerja di media online selama beberapa waktu nggak lantas membuat saya bisa berpikir besar. Bisa dibilang, isi otak ini monoton gitu-gitu aja. Tapi satu yang saya yakini, dunia maya terlalu luas untuk hanya 'dicangkul' di tema itu-itu saja. Ada banyak lahan yang sebenarnya potensial, tapi belum 'diambil' oleh media-media yang sudah terkenal lebih dulu.

Salah satunya, traveling. Sebenarnya, both of us passionnya biasa aja soal liburan. Tapi kala itu, ada 1 penulis yang juga temen saya yaitu Alfry yang kerap mengisi waktu dengan menjelajah destinasi wisata baru. Kenapa tidak? Lalu tanpa pikir panjang, setelah pilih-pilih nama, di tengah saya opname (lagi) di RS karena kena DB, www.travelingyuk.com hadir.

Sederhana banget, namanya travelingyuk dan tujuannya memang membuat orang ingin pergi liburan dan memberikan referensi. Nggak SEO friendly, nggak 1 kata, dan banyak lagi. Kini, fenomena "yuk" ini menginspirasi banyak orang untuk membuat website atau akun media sosial bertema pariwisata dan menyelipkan "yuk" di namanya. Siapa sangka juga, kini liburan lagi trending luar biasa di Indonesia? :)

Belasan bulan berlayar di dunia maya, travelingyuk sempat di posisi naik turun. Sejujurnya, lebih banyak turun karena kami nggak fokus di sana. Ada dua website lain yang sudah menyita perhatian dan kala itu lebih menjanjikan. Beberapa kali, travelingyuk hibernasi alias tidak menerbitkan konten sama sekali. Even likers di Facebooknya cuma 600an. Kasihan banget deh pokoknya...

Sampai pada Februari 2016, kami bisa generate likers dengan begitu cepat dan organik di Facebook Fanspage. Kejutan karena tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Berawal dari sana, traffic website juga ikut meningkat. Website ini seperti permata yang menunjukkan kilaunya, akhirnya kami memutuskan untuk menyisihkan waktu dan menggarapnya dengan lebih serius.

Trust me it feels like...start from zero. Totally zero, selama ini travelingyuk udah kayak anak layangan, dilepas gitu aja. Saya jadi belajar lagi konten seputar wisata, memutar otak bersama tim penulis dan media sosialnya untuk menghadirkan kualitas paripurna. Hingga seratus ribu sekian likers kemudian, kami mendapatkan email, dari seseorang yang tak pernah disangka.

Make it Bigger

Selama ini, dana untuk menjalankan tiga website di kantor adalah modal pribadi dari founder. Dengan berbagai keterbatasan, kami harus bekerja cerdas agar dana yang ada, bisa cukup untuk biaya perbulannya. Tapi kami mengerti bahwa uang tidak selalu penentu kesuksesan. Ada banyak faktor lain, pelan tapi pasti, membangun konsistensi dan diferensiasi di setiap website adalah usaha kami semua yang ada di kantor.

Begitu juga dengan travelingyuk, FYI tidak banyak dana yang disisihkan untuk mengisi konten dan merawat media sosialnya. Tidak sampai lima juta rupiah lebih tepatnya. Mungkin sekitar 2-3juta selama hampir dua tahun. Bahu membahu, semua tim membuatnya berjalan lebih cepat dari hari ke hari. Meski harus diakui bahwa money still talks. Ini pelajaran pentingnya, lakukan yang kamu bisa dan semaksimal mungkin. Kerja keras tidak akan pernah berkhianat.

Singkat cerita, kami diundang ke Jakarta untuk bertemu dengan investor. Satu poin yang membuat saya tak ragu untuk bekerjasama, karena ini adalah proses belajar. Kami tidak serta merta diberi uang lalu terserah elo deh puterin itu duit pokoknya nanti kalo laba elu kasih gua. Bukan seperti itu, kami semua berdiskusi panjang untuk mematangkan rencana ke depan.

Diskusinya juga tidak hanya satu dua kali, tapi terus menerus. Kami tidak dilepas begitu saja, tapi terus diperhatikan. Bagi mereka, membangun bisnis bukan untuk bertahan selama 5 atau 10 tahun. Namun tetapi selama mungkin dan terus berkembang! Bukan membakar uang atau bertaruh, melainkan menentukan langkah dengan tepat dan meminimalisir kegagalan.

Mereka rendah hati dan pendengar yang baik, berbagai hal terus dibenahi hingga jadi lebih baik dari hari ke hari. Saya jadi belajar lagi banyak hal, ada action plan dan Key Performance Indikator, tak lupa juga audit dan rapat kerja. Menarik sekaligus menantang ya?

Ya, kami belum mengajukan proposal ke investor atau venture capital manapun. Merekalah yang menemukan kami, di antara tumpukan startup lain yang tak kalah keren. Bagi saya, halaman baru travelingyuk ini merupakan proses saya belajar. Iseng-iseng saya menyebutnya: kuliah S2 di Universitas ***** dan sekarang sudah memasuki semester kedua.

Jika tidak ada halangan, tidak lama lagi perjalanan kami akan segera dimulai. Siap untuk menjelajah samudera lebih jauh lagi :). Dari sini, teman-teman bisa menaikkan rasa percaya diri. Awalnya, travelingyuk juga nothing. Sempet hidup mati, prosesnya juga nggak sebentar. Tapi jika kamu tau bahwa startup mu potensial dan tentu saja, bisa berkembang terus, dont lose hope. Di postingan selanjutnya, saya akan tulis proses dari awal bertemu pihak holding company sampai akhirnya travelingyuk siap untuk dijalankan dengan manajemen baru. Stay tune and thank you sudah baca ya...

Regards
Titasya
Read More

Saturday, January 14, 2017

[Contain Spoiler] Passengers: Cerita Tentang Bertahan

Note: Kalau belum nonton Passengers dan nggak mau kena spoiler tolong jangan dibaca ya postnya terimakasih :)

Akhir pekan kini jadi berwarna, kembali ke rutinitas nonton ke bioskop. Minggu lalu nonton Arrival dan kali ini, Passengers. Saya tipikal orang yang nggak baca preview or lihat trailer film dulu sebelum nonton. Lebih ke tebak-tebak manggis, let surprise around me during watching movie. Kalau nggak sampai 1 hari dan saya udah bikin blogpost tentang film yang baru selesai ditonton berarti memang mencuri hati banget!
Passengers bercerita tentang sebuah Perusahaan yang bikin bisnis memindahkan makhluk bumi ke planet lain. Perjalanannya memakan waktu 120 tahun, that's why penumpangnya dimasukkan ke dalam kapsul dan dibikin tidur selama perjalanan tersebut. Long story short, ada kerusakan yang membuat sistem di kapsul milik Jim Preston dan akhirnya cowok ganteng yang diperankan oleh Chris Pratt ini terbangun lebih cepat 90 tahun.



Panik luar biasa, Jim frustasi karena dia bakalan mati menua di dalam kapal. Saat melihat-lihat kapsul penumpang lainnya, dia melihat Aurora Lane yang cantik. Satu tahun penuh Jim menahan diri untuk nggak 'membangunkan' Aurora dari hibernasi buatan itu dan akhirnya ia goyah. Perempuan yang jadi penulis terkenal di Amerika itupun akhirnya ikut 'terjebak' hidup di kapal itu.

Dari sini, saya melihat banyak sisi menarik. Bagaimana paniknya Jim dan Aurora, mereka sampai 'gila' karena membayangkan akan mati sendiri di sana. Awalnya, Aurora nggak tahu bahwa Jim lah yang membuatnya berada di kondisi seperti sekarang. Mau tidak mau, dua penumpang ini belajar untuk menerima kenyataan. Bersenang-senang, mencoba menikmati hidup dan tentu saja, saling jatuh cinta.

Mengikuti perjalanan mereka hanya berdua ditemani robot bartender di kapal, mulai dari mengisi waktu hingga kencan. Dalam kehidupan nyata, kita pasti sering berada di situasi yang nggak diinginkan. Mau komplain terus? Tentu malah buang waktu dan tenaga. Mencoba menikmatinya, adalah solusi yang sederhana tapi bikin bahagia.

Ada banyak hal yang terjadi di luar kuasa kita. Seperti kapsul tidur yang rusak, atau jatuh cinta pada seseorang. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri, seperti saat Aurora tahu bahwa Jimlah penyebab ia kini tak lagi dalam masa hibernasi.

Jim nggak memaksa Aurora untuk maafin dia, dan di situlah letak pengendalian diri manusia. Nggak memaksa orang lain untuk nurutin dia, atau setuju sama apa yang dia lakukan. Hal-hal kayak gini yang kita sering ngga sadar, melakukannya. Elo harus setuju sama gueee! Well, bukankah hak kita untuk memberi penjelasan dan hak mereka untuk menerimanya atau tidak?

Cerita bergulir, masalah di kapal semakin menjadi. Mau nggak mau, mereka harus bersatu agar tidak terjadi hal buruk. Masih dengan sakit hati yang tersisa, Aurora mau untuk mencari akar masalah tersebut bersama Jim. Hal yang berat dilakukan, tapi keadaan yang memaksa. Besar hati dan fokus pada mencari solusi, adalah moral of the story di bagian ini.

Memaafkan bukan perihal mudah, tapi move on tak pernah jadi langkah yang salah. Menghadapi kenyataan pahit, maju ke depan dan nggak menenggelamkan diri dalam kesedihan. Istilahnya, nasi sudah jadi bubur dan harus dimakan. Hambar, datar, tetap musti ditelan.

Tapi toh manusia adalah makhluk yang adaptif dan hatinya selembut kapas. Setelah melewati beberapa kesulitan, ia justru berjuang agar Jim tetap hidup. Saat montir ini terhempas di ruang hampa luar angkasa, Aurora melompat dan menyelamatkannya. Dengan sisa tenaga, ia menyeret Jim masuk ke ruang pengobatan dan berusaha agar pria yang menggores luka di hatinya itu tersadar dari koma.

Sejenak, jadi teringat tutur seorang teman. Carilah pasangan yang mau untuk 'saling' dengan kita. Saling cinta, saling mempertahankan, dan saling menggenggam. Semua tidak akan ada artinya, jika hanya satu orang yang saja yang berusaha, tapi lainnya tidak. Dua tokoh utama film Passengers ini membuktikan bahwa setelah melewati fase bermasalah, ada kesempatan untuk berubah.

Problema telah terlewati, sekarang ada kesempatan untuk salah satu kembali hibernasi. Berarti, yang lainnya akan kembali hidup sendiri, dalam sepi. Meninggalkan untuk kembali mencapai masa depan, ditinggalkan karena cinta berarti siap melepaskan. Tapi apa yang terjadi?

Tidak, tidak ada yang kembali melanjutkan tidur panjang. Rupanya, menerima realita dan mencintai apa yang dimiliki menjadi kekuatan besar. Hingga akhirnya keduanya tak bisa lagi melawan waktu dan menua, banyak kejutan yang dilakukan. Mulai dari membuat taman di dalam kapal, hingga merekam jejak mereka untuk diceritakan pada penumpang yang bangun tepat pada waktunya.

Terlepas dari film ini seperti Martian, Titanic, Gravity, Guardian of the Galaxy (kidding! :p) dan Interstellar diblender menjadi satu, benang merah ceritanya memang menarik. How to survive wherever we are, how to enjoying life however it is. I recommended this movie to watch, quite worth it!

You die, i die - Aurora

 


Read More

Thursday, January 5, 2017

Melihat Arsitektur Unik dan Wisata Budaya di Kampung Ahok

Siapa sih yang nggak tahu Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama? Hampir semuanya yang mengikuti perkembangan politik dalam negeri mengerti perihal Ahok. Ternyata pria yang saat ini sedang bertarung dalam Pilkada di DKI Jakarta tersebut memiliki kampung halaman yang keren yaitu Belitung. Sebuah kepulauan yang maju dalam sektor wisata pantai hingga budaya.

Salah satu yang jadi andalan terletak persis di mana dulunya rumah masa kecil Ahok berdiri. Sebuah saksi bisu tentang perjalanan Ahok dengan keluarganya. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Kampung Ahok. Setelah masuk dalam gerbangnya, kamu akan melihat sebuah bangunan besar dan paling mencolok sebagai bangunan utama . Warnanya dindingnya cukup cerah dengan balkon yang luas dan megah. Tentu dulu rumah Ahok tidak seperti ini. 

Setidaknya ada sekitar tiga kali usaha renovasi hingga tampil dengan bentuk dan ukuran terkini dan terakhir dilakukan tahun 2009 silam. Karena Ahok bertugas di Jakarta, maka yang tinggal di rumah tersebut adalah ibunya yaitu Buniarti Ningsih. Masih di area yang sama, bangunan besar dan mewah bukanlah satu-satunya yang menyita perhatian. 

sumber
Memang nampak modern dan keren dengan halaman yang dilapisi dengan paving blok tertata rapi, namun jika dihadapkan pada rumah panggung tradisional dengan keindahan nuansa tradisionalnya, siapa yang bisa menahan untuk bisa datang ke tampat yang berlokasi di Wisata Kampung Ahok di Jalan KA Bujang No. 22, Kecamatan Guntung, Kabupaten Belitung Timur. 

Informasi selengkapnya tentang destinasi wisata rumah Ahok bisa kamu dapatkan di sini. Link : http://travelingyuk.com/rumah-ahok/23497/
Read More

Tuesday, October 18, 2016

Cinta Itu...

Untuk orang seperti saya, cinta seperti kemewahan tersendiri yang saya kadang ragu akan eksistensinya. Mengingat hubungan terbaik seorang Titasya Anugraheni akhir-akhir ini adalah dengan seperangkat kasur bantal dan boneka, wajar jika menjalin asmara belum terbesit lagi dalam pikiran. Tapi diam-diam, saya menemukan cinta di banyak orang. Terlihat di mata, terasa di perhatian, dan terwujud dalam perbuatan. Di dalam otak, saya merangkum bahwa cinta itu...

Ketika suami sahabat saya, Aisyah Fitasari sedang tugas di Wonogiri. Mereka berdua tinggal di Jakarta, dan mau mudik lebaran. Pas banget hari tugas tersebut dekat dengan cuti bersama. Tapi Taqim tidak langsung pulang ke Pacitan (yang jaraknya cuma sejam dari Wonogiri!). Dia justru balik lagi ke Jakarta, menjemput sang istri. Kita tetap mudik bareng, aku temenin kamu menaklukkan arus pulang kampung, he said. Then they comeback home together, two days trip Jakarta-Pacitan. I call it, love :)
Saat pagi hari saya ke rumah teman, bertemu dengan Mbak Nie. Perempuan berhijab cantik ini ternyata mau ke Indomaret. Sayapun bertanya, mbak mau beli apa? Ia menjawab mau beli kopi untuk calon suaminya. "Didit itu nggak bisa minum kopi yang blablabla, dia cocoknya minum kopi merek ini," tuturnya. Iya, itu cinta :)
A photo posted by Nie (@just.nie) on

Saya dan Ani sudah berteman selama belasan tahun. Kondangan bisa dibilang quality time kami di masa kini. Ia biasanya meluangkan waktu untuk ngobrol dan ngafe dulu bareng sama saya setelah datang ke resepsi pernikahan. Padahal dia sudah punya dua anak dan semuanya balita. Tapi suaminya memberikan waktu dan kebebasan, gantian di rumah dan menjaga dua anak kecil itu. Ah, cinta memang penuh pengertian :")
A photo posted by Anydha Natassya (@anydha) on

Dua orang ini, dulu pas masih pacaran hobinya berantem trus baikan trus berantem lagi. Lucu-lucuan gitu kalau ngambek, trus abis itu ketawa-ketawa lagi. Dasar! Sekarang mereka long distance marriage. Jakarta-Pacitan bukan jarak yang dekat, tapi toh Jacob mengusahakan pulang tiap ada kesempatan. Kadang naik pesawat, sering juga pakai kereta. Road trip juga kadang-kadang. Demi bertemu Mita, dan menyenangkan istrinya itu agar tetap bahagia. Kamu kira libur dua hari dan dipakai perjalanan itu tidak melelahkan? Tapi namanya juga cinta, macet totalpun diterjang! ;)

Masih banyak cerita cinta lain yang bikin hati saya hangat. Karena ternyata, berjuang dan diperjuangkan itu bukan tentang kata-kata tapi lebih dari itu. Bagaimana kamu menjadi prioritas seseorang dan kamu juga memprioritaskan dia. Bukan hanya sekadar ucapan tapi juga tindakan. Love it's not a words to spelled, it's an act and proving.

Don't forget to fall in love, and loving as much as you can be <3 <3 <3
Read More

Wednesday, October 5, 2016

Quarter After One

"Kamu salah satu perempuan tangguh dan tahan banting yang pernah aku kenal."

Ia mengatakannya kepadaku beberapa kali, tanpa ada maksud memuji. Hanya mengungkapkan isi hati, dan rasa kagumnya saja. Namun perempuan yang menerima predikat itu, justru menangis sesenggukan tak kunjung reda, beberapa hari setelahnya.

"Aku capek, wajahku banyak wrinklenya. I don't want to run it anymore," - aku, dengan air mata berderai mengucur tak henti-henti.

Tanpa berkata, ia menggenggam tanganku dan menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipi penuh jerawat ini. Berusaha menenangkanku, ia mengajak makan di warung ayam penyet favorit kami.

"Kalau kamu sudah tidak ingin, kamu bisa berhenti. Kamu masih punya pilihan," tuturnya sambil sesekali menyeka air mata yang entah kenapa tak berhenti mengalir setelah beberapa lama.

Aku masih terisak, tak tau lagi harus berkata apa. Otakku sudah keruh, butuh waktu untuk bisa kembali berpikir jernih seperti sedia kala. Aku hanya bisa menangis dan menangis, low point.

Hingga akhirnya aku pulang dan pagi harinya, menyadari satu hal. Di jam-jam orang sedang terlelap tidur, dia ada untuk memegangku agar tak jatuh di jurang kesedihan paling dalam. Dia berusaha memberikan opini dan solusi, dan yang terpenting adalah jemarinya menyapu air mataku hingga berkali-kali. Meski aku di keadaan seburuk itu, dia tak mengubah pandangannya mengenai aku yang tangguh dan tahan banting.

Ternyata menurutnya, aku sedang lelah dan berada di titik batas tertinggi. Sehingga semuanya meledak bersamaan, memporak-porandakan duniaku pada hari itu. Yang paling membuatku tak menyangka adalah, dia memaksaku makan karena tau berjam-jam sebelumnya aku tak mendapat asupan apapun.

Terimakasih, sudah menghapus air mata di tengah malam yang dingin. Melihatku dari balik gerbang kosan sampai aku tak terlihat dari pandangan. Memastikan aku tidur dan istirahat, terlepas dari penat. Jemari dan pandangan mata teduh itu, adalah alasan kenapa aku masih bisa tersenyum, sampai hari ini.
Read More

Monday, October 3, 2016

Cerita di Balik Goresan di Tangannya

Mungkin kamu pernah sekilas melihatnya saat ia tak memakai baju berlengan panjang. Ada beberapa goresan luka di tangan, jemari dan telapaknya. Meski tak terlalu kentara, tapi menyimpan cerita di setiap bekasnya.

Luka berbentuk bulatan kecil berwarna kemerahan di ujung telunjuknya itu, tercipta saat ia tertusuk jarum kala memasang kancing kemejamu yang terlepas. Waktu itu sudah larut malam, dan kamu berkata akan memakainya esok hari. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, diambilnya peralatan menjahit sederhana kemudian dengan kemampuan seadanya, berusaha menyelesaikan masalah yang ada.

Matanya sudah hampir tak mampu terbuka, tapi kancing itu tak kunjung usai terpasang juga. Akhirnya terjadilah, jarum menusuk ujung jarinya meski tak dalam tapi cukup membuatnya berdarah beberapa tetes. Ia tak mengeluh, menyapu cairan merah itu dengan tissue dan melanjutkan pekerjaannya.

Beranjak dari situ, ada goresan memanjang berwarna kecoklatan di pergelangan tangannya. Meski sehari-hari tertutup jam tangan serta gelang, namun terlihat mencolok di antara warna kulitnya yang putih merona. Ternyata, itu adalah 'kenang-kenangan' dari wajan panas yang tak sengaja ia senggol saat memasak di dapur.

Ia tahu bahwa kamu tak doyan makan jika bukan masakannya. Bangun sejak pagi, perempuan yang rambutnya kerap dikucir agar tak gerah itu berkutat di dapur. Memotong sayuran, mengupas bawang. Menggoreng ayam favoritmu, dan karena sedikit tak berhati-hati, tangannya terkena pinggiran wajan yang panasnya luar biasa.

Tak ada keluhan, ia mengambil pasta gigi di kamar mandi dan mengolesnya ke luka yang melepuh itu. Kemudian melanjutkan memasak seperti tak terjadi apa-apa, kemudian membangunkanmu untuk mandi dan bersiap kerja.

Satu yang terakhir, adalah luka seperti cengkok kecil di telapak tangannya. Membekas, tak bisa sembuh hanya dengan obat biasa. Mungkin kamu lupa, tapi itu adalah luka yang berawal dari usahanya membantumu membetulkan lampu yang mati di rumah.

Ketika kamu memanjat tangga, ia memegangi dari bawah. Tapi kejadian tak mengenakkan tiba-tiba saja datang. Obeng yang kamu pegang jatuh, mengenai tangannya. Lukanya menganga, hingga daging di balik kulitnya terlihat. Ia menangis menahan sakit, dan setelah segala obat yang dioleskan, hanya bisa menutup luka, tak bisa menghilangkan bekasnya.

Tangannya memang tak semulus artis Korea. Tapi tangan itu yang menyulap bahan makanan menjadi sepiring masakan lezat yang setiap hari kamu rindukan. Dua tangan itu yang memelukmu saat kamu merasa lelah luar biasa, sepulang bekerja. Dan tangan itu, yang selalu terbuka untukmu kapan saja, susah ataupun senang, suka ataupun duka.

Meski goresan-goresan itu membekas selamanya, tapi cerita di baliknya membuatmu tersadar bahwa: hanya cintanya kepadamu yang membuatnya tahan dengan segala perih saat luka-luka itu menyergapnya.


A photo posted by Davy Linggar Photography (@davylinggarphotography) on
Read More

Saturday, October 1, 2016

Ketika Ada yang Menetes dari Pelupuk Matanya

Sosok dengan wajah sederhana dan baju tak terlalu banyak gaya itu, adalah perempuan yang kamu lihat dan membuatmu jatuh cinta. Pada senyum lepasnya, pada candaan renyah yang ia lontarkan, dan pada tatapan mata penuh ketulusan saat memandangmu. Ketika ada keputusan besar yang kamu ambil, yaitu menjadikan dia teman hidup, sesungguhnya perjalanan ke depanlah yang jauh lebih berat.

Ketika mulai muncul percik-percik permasalahan. Selisih paham dan mungkin saja, berakhir dengan pertengkaran. Baik kamu dan dia sama-sama di titik didih, kata demi kata tajam menghujam meninggalkan perih. Entah siapa yang salah, yang pasti hari itu berakhir dengan amarah.

Tapi tahukah kamu, saat ia mendengar suara keras dan bentakanmu, hatinya luruh dan jatuh ke dasar kesedihan terdalam. Pecah berkeping-keping, bersama dengan hancurnya sisa-sisa waktu di hari itu. Ia memilih diam, tak berani lagi beradu argumen denganmu. Karena ia tahu, api bertemu api hanya akan menghasilkan abu.

Saat kamu marah luar biasa dan mendiamkannya, ia memilih tak mengeluarkan sepatah kata. Mencoba menghindari menyiram minyak ke dalam kobaran api, berdoa semoga kamu segera tenang dan terkendali. Hari-hari berikutnya dilalui dengan seperti dua orang asing terjebak dalam satu rumah, tak bertegur sapa apalagi bercengkrama.

Perempuan yang kamu minta dari Ayahnya untuk kamu jaga dan bahagiakan selamanya itu, tetap bangun pagi seperti biasa. Menyiapkan sarapan dan menyiapkan bajumu, dalam diam sembari berharap hatimu sudah luluh dan mengajaknya bicara. Tapi ternyata tidak, tatapan matamu tetap seperti melihat musuh saat memandangnya.

Ia tahu bahwa mungkin dirinyalah penyebab semua kekacauan ini terjadi. Berusaha sekeras tenaga, memperbaiki semuanya. Tapi apa daya, hatimu terkadang sekeras batu. Segores kecil kesalahan yang dibuatnya, membuatmu jadi kaku tak bisa dikompromi lagi.

Jika sudah tak menemukan alasan untuk memaafkannya, maka ingat-ingatlah lagi apa yang membuatmu jatuh cinta kepadanya. Betapa indahnya saat hatimu berdegup kencang ketika menunggu jawaban iya darinya. Saat kamu merindukan untuk bertemu dan memeluknya saat jarak sedang memisahkan kalian berdua. Ketika kamu mendekapnya dalam tidur, dan merasa ia adalah tempatmu bersandar dan mencari ketenangan paling hakiki di dunia.

Saat ada buliran air mata menetes dari matanya, itu bukan berarti separuh hatimu adalah orang yang lemah. Namun ia takut kehilanganmu, dan takut menyakitimu lebih dari ini. Terisak dengan suara tertahan, perempuan cantik yang kamu belai rambutnya dan kecup keningnya itu tak bisa lagi membendung kesedihan. Dia bisa apa? Segala upaya telah dilakukan bukan?

Semua orang bisa membuat kesalahan, tapi tidak semua orang pantas dilepaskan hanya karena hal tersebut. Salah satunya, teman hidupmu. Selama ia masih berniat baik meneruskan perjalanan bersamamu, dan meminta maaf meskipun lirih, hargailah. Kamu boleh marah, tapi sekali lagi tolong tatap matanya.

Mata itu, yang menyimpan cinta tak terhitung banyaknya untukmu. Dua bola mata berwarna kecoklatan itu yang terjaga di malam hari saat kamu sakit dan tak bisa tidur karena menggigil. Indera penglihatan itu yang selalu menemukan di mana barang-barangmu berada, kala kamu kesulitan mencarinya. Dan mata itu, yang selalu bisa membuatmu menjadi lelaki paling beruntung di dunia.

Ketika ada yang menetes dari pelupuk matanya, hapuslah segera. Jangan biarkan wajahnya sembab dan hidupnya layu, karena bertengkar denganmu. Dia adalah perempuan yang menyerahkan hidupnya untuk kamu nahkodai, dan mengabdikan waktunya untuk membahagiakanmu.




Kalau berantem sama pasangan, jangan lama-lama ya...hidup ini terlalu indah jika untuk dihabiskan bersama amarah.
Read More

Sunday, September 25, 2016

Someday

Ada tangan yang tak akan melepaskan genggamannya dari jemarimu, ada pundak yang tak akan beranjak untuk jadi sandaran hidupmu.

Bulan lalu, Mbak Prima datang ke Malang dan menghabiskan waktu bersama saya. Kami ngobrol panjang lebar, mengenai banyak hal. Salah satu highlight yang membuat kami tertawa lalu menitikkan air mata terharu adalah pada poin the right one. Ia mengatakan bahwa beberapa waktu lalu sempat menangis karena lelah.

"Sya, aku tuh kadang ngerasa capekkk banget. Kerja, tesis, handle urusan logistik rumah. Waktu 24 jam rasanya nggak pernah cukup. Aku nangis karena sampai hari ini, aku belum ketemu orang yang bisa aku ajak berjuang bareng..."

I feel her, literally. Both of us, berusaha sekuat tenaga agar tetap bisa selesai kuliah dan bekerja sampai dobel-dobel almost all the time. A glimpse of me, sejak semester 3 saya udah kerja part time mulai dari jualan pulsa sampai ngelesi anak SD. Bahkan hari ini saya sidang skrispsi, pulangnya langsung ngantor sampai malam. Sempet juga punya 5 murid les dengan alamat rumah yang berbeda-beda, bisa dibayangkan kayak gimana hidup ini berjalan sehari-hari. A glimpse of her, Mba Prima bisa dibilang salah satu tulang punggung keluarga. Hidupnya tak lepas dari berbagai tanggungjawab, yang membuatnya kadang tak bisa tidur cukup atau sekadar istirahat.

Maka bukan hal yang aneh jika kami ingin bersama laki-laki yang kuat bertarung melawan kerasnya kehidupan, bergandengan tangan bersama pasangan. Masalahnya adalah, kami ternyata lebih sering bertemu dengan pria yang justru menambah masalah dalam kehidupan kami. Entah kurang dewasa, atau menye kebanyakan drama.

Untuk menghibur dan menguatkan Mba Prima -sekaligus memberikan motivasi bagi diri saya sendiri- , terucaplah rangkaian kata yang penuh makna. Dengan nada positif dan penuh semangat, saya mengucapkannya:

Mba, aku doakan suatu hari Mba Prima bertemu dengan laki-laki yang tangguh dan soleh. Menyayangi Mba Prima dan mengerti betapa berat hidup Mba selama ini. Dia yang akan menjemput Mba sepulang dari bekerja, membawakan setangkup roti bakar dan sekotak susu cokelat. Karena dia tau, Mba capek seharian berkutat dengan deadline. Dia akan membiarkan Mba Prima tidur di dalam mobil, dan sepenuh hati membantu meringankan tanggungjawab Mba Prima...
Dalam kacamata saya, cinta adalah tentang penerimaan dan pengertian. Bayangkan, ada dua orang yang lahir di rumah yang berbeda, besar dan hidup dengan cara yang tak sama pula. Kemudian tiba-tiba bersatu, tinggal dalam satu atap. Bisa dibayangkan betapa banyak hal yang perlu disesuaikan?

Cinta, membuat saya bisa memahami seseorang dan menerimanya utuh dengan segala kurang lebihnya. Cinta, mendorong saya untuk memperbaiki diri agar hidup berjalan ke arah yang lebih baik lagi. Cinta, yang akan mengikat saya dan the right one untuk bersama berjalan dan berlari meski banyak kerikil dan rintangan menghampiri. Dan cinta, yang akan membuat dua orang insan manusia tetap lekat, meski ombak-ombak besar menerpa tanpa jeda.

Untuk semua teman-teman yang sedang menunggu the right one nya, saya doakan yang terbaik ya. Menemukan dia yang mengisi sela-sela jemarimu, menghapus air mata dan peluhmu. Ketika kita menjadi orang baik, maka cermin akan memantulkan sosok yang baik pula inshaAllah.

Semoga Mba Prima, segera menemukan detak untuk jantungnya, jawaban dari segala doanya, dan teman untuk menjalani hidupnya...

Karena cinta selalu sederhana, mengalir jernih seperti air dan hangat seperti cahaya.

Read More

Monday, August 22, 2016

When Finally you are Ready

Entah kenapa, saya belum bisa berpikir bahwa menikah adalah perihal yang sederhana. Mungkin karena belum bertemu the right one, atau pernikahan memang tidak segampang itu. Tapi satu yang selalu saya percaya bahwa, akan ada hari di mana segala ketakutan, risau, bayangan dan segala macamnya itu menghilang tak bersisa ketika hati sudah mantap tertambat pada orang yang tepat.

Just fuckin do it, some people said. Mereka mendesak saya untuk segera melengkungkan janur di depan rumah, mengakhiri kesendirian yang semakin akut mengakar ke dalam tanah. Masalahnya, hey saya juga mau kali menikah! Siapa yang nggak pengen ada seseorang yang bisa diajak berbagi, dan ada alasan untuk segera pulang ke rumah?

But married is lifetime dealing, di mana saya nggak punya tombol exit kalau di tengah jalan ingin berhenti. Yes i have actually, namanya perceraian. Tapi masa iya saya menggampangkan pernikahan seperti itu? Kalo ga cocok yaudah bubar aja, gitu?

Saya masih mencari, sosok yang ingin saya temui setiap hari. Laki-laki yang membuat bibir ini tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingatnya, dan tidak marah ketika dia memecahkan piring atau melakukan kebodohan lainnya. Tingkat acceptance setinggi itu, hanya bisa tumbuh dari rasa cinta yang membuncah di awalnya. Percayalah, saya sudah mencoba berbagai rumus ini dan itu dan hasilnya sama. Saya tidak bisa menjalani hidup bersama orang yang saya tidak cinta.

Saling jatuh cinta, lebih tepatnya. Ketika rasa itu menjelma menjadi sebuah ikatan yang kuat dan dewasa menjadi tanggungjawab. Ada rasa takut untuk saling menyakiti, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saat mata saling tatap dan seolah berkata: kamu aman di sini, di sampingku.

Saya juga mengerti bahwa pernikahan tidak semanis kembang gula. Dia yang awalnya manis luar biasa, bisa berubah menjadi pemalas yang suka buang sampah seenaknya. Begitu juga sebaliknya, but hey, menikah adalah cocoklogi seumur hidup kan? Darimana datangnya tenaga untuk kompromi setiap hari sampai mati, kalau bukan dari cinta setengah mati?

Yakinlah, banyak pasangan yang ingin saling cekik setelah bertahun-tahun menikah. Namun mereka berhasil menahan diri, karena masalah satu persatu telah terlampaui. Terlalu banyak problematika dalam hidup, yang tidak akan bisa diselesaikan jika dua tangan tidak saling bergandengan. Meski dalam hati marah, namun ketika ia mau berusaha berubah dan berbenah, kesempatan macam apa yang tidak akan kita berikan? Ya, kesempatan dan maaf datang mengalir seiring cinta yang bertahan di dalam setiap pernikahan.

Kekurangan adalah milik setiap orang, termasuk saya. Siapapun nanti yang akan mengikat janji suci bersama, juga telah melewati fase menimbang masak-masak untuk mengajak saya berumahtangga. Dia juga pasti berusaha untuk mencocoklogikan dirinya dengan saya, dan berusaha untuk tidak mencubit saya di setiap hal menyebalkan yang saya lakukan.

Dan ya, saya ingin dicintai dan jatuh cinta. Itulah yang membuat saya berpikir bahwa pernikahan tidak sederhana. Karena untuk bertemu seseorang yang jatuh hati dan dijatuhi hati serta seumur hidup cocoklogi, tentu susahnya luar biasa. Tapi saya tau, dia ada di luar sana. Sama gamangnya dengan saya, sama berharapnya seperti saya.

Semoga di waktu yang tepat, kita bertemu dan jatuh cinta satu sama lain. Semoga pernikahan menjadi sederhana ketika ada cinta di antara kita. Semoga hidup ini semakin bermakna ketika ada kamu di dalamnya.

Dari saya, yang bersikeras untuk jatuh cinta pada lelaki yang saya suka.
Read More

Tuesday, August 16, 2016

Sebuah Modal yang Tak Ternilai Harganya

Lama banget ga ngeblog, untung aja ga lupa sama password :D Howdy? Fine here, cuma kangen sama Gelato Nutella dan Lemonia aja :"( #lah #jadinyacurhat . Tahun ini sungguh penuh kejutan, dan syukurlah lebih banyak positive surprise. Alhamdulilah banget, Allah begitu baik sama UmmatNya yang bandel luar biasa ini.

Saya sering bilang kalau apa yang dicapai hari ini, adalah tumpukan pondasi yang dibangun dari ratusan bahkan ribuan hari ini sebelumnya. Bagaimanapun juga, Pokemon Go berawal dari abstrak 20 tahun lalu dan sekarang mendulang 10 juta download di seluruh dunia (kalo ga salah, kalo salah maapin ya karena manusia tempatnya salah). Setiap kali mencapai sesuatu, itu bukan hanya karena tetesan keringat saya sendiri, tapi ada banyak orang yang menjadi salah satu penyumbang ilmu dan mentoring saya.

Selama ini, saya bekerja bermodal pikiran, dan tentu saja jari jemari lentik untuk mengetik ditambah bibir berlipstick mauve untuk ngomelin orang kalo kerjaannya ga oke #maapintitayaAllah . Bisa dibilang, saya penganut Bob Sadino garis keras. Dua dengkul saya adalah modal, tapi versi saya direvisi jadi satu otak dua tangan boleh ndak? hehe.

Tidak hanya itu saja, pengalaman dan ilmu yang ada di dalam otak ini tidak muncul begitu saja. Ada kiprah banyak orang di dalamnya. Baik dalam bentuk referensi buku dan video, hingga bekerja secara langsung. Semuanya bahu-membahu mendidik saya yang nda paham kapan di harus dipisah dan disambung ini jadi mengerti banyak hal. Asal bukan cinta kita yang dipisah ya beb, prinses patah hati nanti :"(

Itulah mengapa judul post ini adalah modal yang tak ternilai harganya. Karena kebanyakan saya dapatkan dari bekerja pada orang lain, di mana justru saya yang dibayar. Atau dari seseorang yang ga pernah berhenti nyemangatin saya, tak lain tak bukan adalah Kanjeng Mommy dan Buapakku sebagai penyokong dana utama selama anak mbarepnya ini belum bisa nyari uang sendiri.

Mulanya, saya kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Dosen-Dosen di tempat saya menimba dan menempa ilmu ini membuka banyak jendela. Saya jadi tau apa itu komunikasi pemasaran, kemudian mengerti apa yang dikerjakan mbak-mbak cantik ber high heels dengan profesi Public Relation, mengenal proses liputan dan tayangnya suatu berita ternyata tidak segampang cocote seorang Motivator, edesbre edesbre. Saya jatuh cinta, pada jurusan saya sendiri.

Pada jurusan yang saya milih agak-agak capcipcup kembang kuncup, clueless iki aku meh sekolah opo toh komunikasi iki belajar opo? Tapi ternyata cocok banget buat saya. It's kind of blind date and end with super sweet closing. Kemudian kala itu, saya punya pacar yang supportif banget dan ngomporin saya buat magang di agency yang ada di Jakarta.

*uhuk* permisiiii bocah ndeso tekok Pacitan iki ngerti opo toh soal per ahensian? Tapi modal nekat dan Golden Ticket dari Mas Seseq yang saya kenal saat mengisi seminar di kampus saya magang ke Jakarta. Kagum di Narrada Communication laptop dan komputernya pake Apple semua, trus mbak-mbak mas-mas e stylish dan gaul abis. Saya belajar banyak, dan itu adalah salah satu modal besar saya, hingga hari ini.

Berlanjut setelah itu, saya kerja di sebuah media namanya Bisa Komputer. Di sana saya bekerja bareng beberapa orang, mostly dengan background IT. Di ahensi saya belajar mengenai pengelolaan social media dan bikin campaign, di Bisa Komputer saya belajar tentang media online. Mas Ihsan, Mas Tri, Himma, Haqqi dan Mustofa membawa saya ke next step. Belajar nulis artikel, memahami media online dan tentu saja, saya makin jatuh hati sama dunia digital.

Dikit-dikit, saya jadi ngerti IT dan design. Bisa lah pake sotosop dikit-dikit atau komplen kalo ada cache yang nyangkut #kibasinrambut. Trus sambil ngebut ngerjain skripsi yang nda selese-selese kek Uttaran, saya kerja full-time di KapanLagiNetwork, tepatnya content writer di www.vemale.com . Modyaro kowe Titasya, kapokmu kapan kowe kudu iso memisahkan di dengan tepat sasaran?

Channel Manager Vemale namanya Mbak Vindy, panggilannya Kapin. Sekarang pada kenal kan? Beliau jadi hits bener sejak terkenal jadi Make up Artist dan juga make up character yang aneh-aneh tapi keren. Bersama dengan Mba Atha, Mba Gigi dan Mba Wenny, mereka berempat ngajarin saya. Sabaar banget, sampai saya bisa nulis berita dengan gaya bahasa menyentuh dan kadang nangis baca tulisan sendiri #apeu . 

Modal saya nambah lagi, jadi bisa nulis news dan artikel bertema women things! Horeee, dan yang bikin merasa terhormat adalah, Mba Rita alias Mamarit yang merupakan Vice President KLN turun tangan langsung mengoreksi tulisan saya. Hidup jangan takut dikoreksi, karena harusnya bersyukur. Banyak yang mengingatkan dan membantu untuk jadi lebih baik.

Move on dari Vemale, saya pindah divisi di content brand. Masih tetap di bawah KLN, saya dimentorin sama Mbaboo, Mamarit dan Mba Ai. Tabungan ilmu dan pengetahuan di dalam otak meningkat pesat, bisa nulis artikel yang diselipi pesan-pesan sponsor sampai yang bertema lifestyle. Gue dooonggg tau beach club mana aja yang lagi hits di Bali, i'm no more bocah ndeso anymore! *ngomong ketinggian, kemudian ditabrak pesawat*

Skill nulis menanjak, hidup jadi lebih baik. Sudah sarjana, hidup udah kek ga ada beban shay. Etapiii abis itu sakit dan bedrest deng :p Paranoid nganggur karena selalu kerja since 2010, usai bedrest diajak join sama Kak Ihsan, untuk handle beberapa web. Ada 3 web awalnya, kemudian beranak pinak. Nah lho, sekarang ga cuma nulis tapi nge-lead. Titasya Anugraheni kudu kenal siapa itu Cherrybelle dan objek-objek wisata di Indonesia. Ditambah dengan aneka macam Google Trends, Google Analytic, Jetpack dan sebagainya, makin mumetlah ndase e Titasya. But it's okay, life is never flat rite?

Sudah sekitar 1 tahun lebih menekuni dunia yang sekarang, tapi beberapa bulan ini fokus ke sub traveling. Kembali handle client (salah satunya sebuah corporate di Jakarta), dan the biggest surprise is...saya diundang untuk bertemu dengan beberapa orang hebat di Jakarta. Mereka pemilik sebuah perusahaan besar, dengan bisnis yang sudah stabil. Kaget banget, darimana mereka tau saya dan Kak Ihsan? Ternyata mereka notice dari salah satu kerjaan kami (yang dirintis bersama team dan salah satu super talented content manager of the year, Mba Gigi). It's...pengen nangis sampai di sini. I'm just...gogrokan peyek, rumahnya di desa, ke mana-mana ngerembes.

Momen tersebut adalah salah satu tukikan tajam dalam grafik hidup saya. Saya 'dipaksa' untuk kembali take  a next step, bahkan mungkin langkah yang sangat-sangat besar. Nggak pernah menyangka, dan masih suka bengong sendiri kalo diinget-inget.

Kalau saya nggak kuliah di Komunikasi UB, Saya ga akan diajar sama Ibu Endang Mirasari, Ibu Desi dan Ibu Dyah Alvina yang udah ngajarin banyak hal seputar marcomn. Kalau saya nggak magang di Jakarta, saya ga akan tau dunia ahensi dari awal. Kalau saya ga kerja di Bisa Komputer, saya ga akan paham apa itu server dan front-end back-end. Kalau saya ga kerja di Vemale, sampai hari ini saya bakalan menggerutu kalo disuruh memisahkan di dan ke. Kalau saya nggak kerja di content brand, dunia saya ga akan seluas sekarang. Dan kalau saya nggak join sama Kak Ihsan untuk membangun banyak hal, mungkin saya...entahlah, gak terbayang.

Modal saya semua tersimpan di memori otak. Diolah setiap hari, dikembangkan dan dipupuk dengan ilmu-ilmu baru tiap harinya. Hingga beberapa hari yang lalu, saya beli majalah Markeeters. Di dalamnya adalah Mba Vindy dan Mas Seseq, memberikan sebuah pengetahuan yang bermanfaat. Saya harus bangga, saya dimentorin oleh banyak orang hebat. Mereka sudah meluangkan waktu dan bersusah payah ngajarin, dan itu harus dimaksimalkan.

Belajar itu kayak jalan, ga ada habisnya. Kalau capek, ya berhenti sebentar kemudian lanjut lagi. Kalau berhenti, nanti orang lain sudah sampai mana-mana trus kita di sini-sini aja. Trus nyalahin Jokowi kalo nasibnya jelek :"(

Saya tidak akan bisa membalas semua perbuatan baik semua mentor saya. Namun saya selalu mendoakan semoga beliau-beliau diberikan kelancaran hidup dan kebahagiaan setiap harinya. Terimakasih atas semua modalnya, batu bata penyusun pondasi karir saya. Dari hati yang terdalam, tanpa mas-mas mba-mba bapak-bapak ibu-ibu, saya bukan siapa-siapa...

Read More

© I'm Fireworks!, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena